Selasa, 18 Mei 2010

Menanamkan sikap asertif di sekolah

Menanamkan sikap asertif di sekolah
Oleh :  Stefan Sikone *)

ZAMAN sekarang adalah zaman keterbukaan dalam segala bidang. Termasuk di dalamnya adalah kebebasan untuk mengemukakan atau mengekspresikan pendapat. Bahkan para pendiri negara Indonesia sejak awal secara terus terang menegaskan dan menjamin hal ini dalam Undang-Undang Dasar 1945. Kalau kenyataannya seperti ini, maka persoalan adalah mengapa banyak orang terutama para remaja (baca siswa) masih merasa takut, malu untuk mengemukakan pendapatnya secara terbuka? Mengapa para siswa lebih cenderung untuk mengambil sikap diam dan duduk manis daripada mau berdialog apalagi berdebat dengan guru ataupun teman-temannya? Bukankah kalau disimak lebih jauh proses belajar mengajar di sekolah sering terhambat karena kenyataan tersebut di atas bahwa para siswa masih merasa malu dan atau takut untuk mengungkapkan keinginan dan pendapatnya?

Dalam konteks permasalah inilah, maka sekolah sebagai lembaga pendidikan formal yang berhadapan langsung dengan para siswa dituntut untuk menanamkan sikap asertif bagi para siswanya. Tentu hal ini membutuhkan proses yang panjang tetapi dalam proses belajar mengajar para pendidik khususnya sudah semestinya mulai berupaya untuk menjadikan para siswa bisa memiliki sikap asertif ini.

Ciri individu yang asertif
Beberapa ciri yang bisa dilihat dari seorang individu yang asertif sebagaimana dikemukakan Fensterheim dan Baer, (1980) antara lain: pertama, bebas mengemukakan pikiran dan pendapat, baik melalui kata-kata maupun tindakan. Kedua, dapat berkomunikasi secara langsung dan terbuka. Ketiga, mampu memulai, melanjutkan dan mengakhiri suatu pembicaraan dengan baik. Keempat, mampu menolak dan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pendapat oranglain, atau segala sesuatu yang tidak beralasan dan cenderung bersifat negatif. Kelima, mampu mengajukan permintaan dan bantuan kepada orang lain ketika membutuhkan. Keenam, mampu menyatakan perasaan, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan dengan cara yang tepat. Ketujuh, memiliki sikap dan pandangan yang aktif terhadap kehidupan. Kedelapan, menerima keterbatasan yang ada di dalam dirinya dengan tetap berusaha untuk mencapai apa yang diinginkannya sebaik mungkin, sehingga baik berhasil maupun gagal ia akan tetap memiliki harga diri (self esteem) dan kepercayaan diri (self confidence).

Berdasarkan ciri-ciri tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa asertivitas merupakan kemampuan seseorang untuk dapat mengemukakan pendapat, saran, dan keinginan yang dimiliknya secara langsung, jujur dan terbuka pada orang lain. Orang yang memiliki sikap asertif adalah orang yang memiliki keberanian untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, dan hak-hak pribadinya, serta tidak menolak permintaan-permintaan yang tidak beralasan. Asertif bukan hanya berarti seseorang dapat bebas berbuat sesuatu seperti yang diinginkannya, juga di dalam asertivitas terkandung berbagai pertimbangan positif mengenai baik dan buruknya suatu sikap dan perilaku yang akan dimunculkan.

Pentingnya asertivitas bagi siswa
Bagi para siswa di sekolah terutama yang berumur di antara 13-18 tahun ( baca: para remaja ) sikap dan perilaku asertif sangatlah penting karena beberapa alasan sebagai berikut: pertama, sikap dan perilaku asertif akan memudahkan remaja tersebut bersosialisasi dan menjalin hubungan dengan lingkungan seusianya maupun di luarnya lingkungannya secara efektif. Kedua, dengan kemampuan untuk mengungkapkan apa yang dirasakan dan diinginkannya secara langsung, terus terang maka para siswa bisa menghindari munculnya ketegangan dan perasaan tidak nyaman akibat menahan dan menyimpan sesuatu yang ingin diutarakannya. Ketiga, dengan memiliki sikap asertif, maka para siswa dapat dengan mudah mencari solusi dan penyelesaian dari berbagai kesulitan atu permasalahn yang dihadapinya secara efektif, sehingga permasalahan itu tidak akan menjadi beban pikiran yang berlarut-larut. Keempat, asertivitas akan membantu para siswa untuk meningkatkan kemampuan kognitifnya, memperluas wawasannya tentang lingkungan, dan tidak mudah berhenti pada sesuatu yang tidak diketahuinya (memiliki rasa keingintahuan yang tinggi). Kelima, asertif terhadap orang lain yang bersikap atau berperilaku kurang tepat bisa membantu remaja yang bersangkutan untuk lebih memahami kekurangannya sendiri dan bersedia memperbaiki kekuarangan tersebut.

Beberapa manfaat di atas lagi-lagi mengindikasikan perlunya sikap ini ditanamkan sejak dini bagi para siswa karena asertivitas bukan merupakan sesuatu yang lahiriah tetapi lebih merupakan pola sikap dan perilaku yang dipelajari sebagaireaksi terhadap berbagai situasi sosial yang ada di lingkungan. Asertivitas ini dalam kenyataannya berkembang sejalan dengan usia seseorang, sehingga penguasaan sikap dan perilaku pada periode-periode awal perkembangan akan memberikan dampak yang positif bagi periode-periode selanjutnya.

Peranan orangtua dan guru
Komponen pertama dan utama yang perlu dalam penanaman sikap asertif ini adalah orang tua. Soalnya, orangtua merupakan figur yang paling dekat dengan kehidupan para siswa masing-masing di rumah. Di satu pihak para siswa ini baru saja melewati masa anak dan di pihak lain para siswa ini belum sepenuhnya mandiri dan melepaskan ketergantungannya pada orangtua. Oleh karena itulah maka di dalam lingkungan keluarga, sikap asertif bisa ditanamkan secara lebih kuat melalui beberapa cara : pertama, perlunya sikap keterbukaan di dalam keluarga. Hal ini berarti bahwa dalam keluarga perlu ada kesempatan seluas-luasnya bagi anak (remaja) untuk mengemukakan pendapatnya tentang segala seuatu yang terjadi pada keluarga yang bersangkutan seperti dalam proses pengambilan suatu keputusan penting keluarga. Kedua, untuk menumbuhkan kepercayaan diri anak dan berani mengemukakan pendapatnya maka anak perlu didengar, dihargai dan bahkan perlu diberikan pujian yang semestinya atas pendapatnya. Ketiga, berikanlah motivasi dan dorongan agar anak dapat bersosialisasi secara aktif melalui kegitan-kegiatan yang positif di lingkungannya dan agar anak terus berusaha dan para guru sebagai penanggung jawab pendidikan formal di sekolah berperan untuk melanjutkan pembentukan sikap asertif yang sudah tertanam di lingkungan keluarga untuk memperoleh yang maksimal di mana saja mereka berada.

Beberapa cara yang dapat ditempuh oleh guru dalam menanamkan asertivitas pada para siswa di sekolah antara lain: (1) Berikan pengertian dan pemahaman pada siswa tentang apa yang dimaksud dengan asertivitas, dan pentignya asertivitas dalam kehidupan sehari-hari. Penjelasan ini akan lebih baik apabila dilakukan oleh para guru bimbingan dan penyuluhan dan konseling dengan memberikan contoh-contoh perilaku yang nyata agar mudah dipahami oleh siswa. (2) Berikan kesempatan yang lebih luas kepada para siswa untuk mendiskusikan materi-materi yang telah dijabarkan, baik dalam kelompok kecil maupun kelompok besar. Fokuskan perhatian terutama pada mereka yang masih cenderung pasif. (3) Berikan stimulasi secara kontinyu untuk merangsang siswa agar berani menjawab ata berpendapat terutama tentang materi-materi yang diajarkan. (4) Berikan reward pada siswa yang aktif dan berusaha untuk mengemukakan pendapatnya di kelas. Reward tersebut bisa berupa pujian atau nilai tambah. (5) Berikan kesempatan secara dala menjawab soal-soal latihan, terutama untuk melatih mereka yang masih pasif. (6) Tetap menghagai pendapat siswa meskipun pendapat itu kurangtepat, dan kemudian membetulkannya dengan cara yang tidak menjatuhkan, sehingga pada kesempatan yang lain siswa tidak akan enggan untuk terus mencoba lagi. (7) Ciptakan suasana yang menyenangkan selama mengajar agar siswa tidak merasa tegang dalam mengikuti pelajaran yang diberikan.
 
Reaksi: